Rabu, 09 Desember 2009

Rakus

Bila tak cukup air mata
Boleh lah ditambah keringat
Hingga tanah ini subur makmur sejahtera

Bila tak cukup itu
Haruskah ditambah simbahan darah
Seperti sejarah bangsa mencatatnya

Atau memang rakus sebabnya
Hingga air pun tak sanggup membasuh
Bila subur makmur sejahtera sekedar do'a-do'a

Atau memang rakus tak pernah cukup
Sampai pertiwi pudar mesranya

Parigimulya 5 Desember 2009

Selasa, 24 November 2009

Mesramu

Kau dengar kah keluhku
Gelisah sebuah rindu
Belaimu
Lembutmu

Kemana lah semilirmu
Damaimu
Elusmu

Semilirkan anginmu
Sejukmu
Kampungku

Kualunkan rasaku
Mengerti kah rinduku
Sapamu
Mesramu

Parigimulya 22 November 2009

Mesramu

Kau dengar kah keluhku
Gelisah sebuah rindu
Belaimu
Lembutmu

Kemana lah semilirmu
Damaimu
Elusmu

Semilirkan anginmu
Sejukmu
Kampungku

Kualunkan rasaku
Mengerti kah rinduku
Sapamu
Mesramu

Parigimulya 22 November 2009

Minggu, 15 November 2009

Sukma Semesta

Pun pada ilang, kisah akan kusampaikan. Bila bulan malas datang, aku tak sungguh khawatir. Kau di mana, kasihsayang? Tak inginkah kutunggui ibarat kau gerhana saja? Ah, ku harap kau menyusul!

Memang setetes pun terlalu banyak bagiku, bagi titik-titikku. Namun kemesraan tetap menjadi sebuah kerinduan. Kalau saja ada mampuku, kau ku peluk sperlunya. Hormatku seperti malaikat kepada Adam.

Alas belantara tak dapat ku bayangkan kini. Terlanjur, mungkin, kau katakan itu. Maka akan aku bertanya, bagaimanakah?

Dalam naungan keheningan, aku pandangi temaram yang kau kabarkan. Gelapkah nanti?

O, daun-daun,
O, ranting-ranting,
O, pohon-pohon,
O, akar-akar,
O, belukar,
O, kemana saja, sukma?
Tentramkah ombak di sana?

Parigimulya 13 November 2009

Kamis, 12 November 2009

Cita-cita Buram

Berjalan pun tertatih
Gapaian tangan tak tau pegangan
Senyum ini sekedar untuk sembunyikan rintih

Remang ruang terawangkan angan
Berdiri di bawah lazuardi
Kuinjak-injank bintang-bintang

Lihatlah
Dibalik licaunya kusimpan cita-cita

Parigimulya 6 November 2009

Selasa, 03 November 2009

Si Gila Pun Terbahak

Kau bayangkan saja, bagaimana tidak merasa bahagia jika kebutuhan tercukupi! Segala upaya, meskipun bertaruh nyawa, demi kecukupan yang namanya kebutuhan. Memang para ahli menyampaikan ragam pernyataan tentang kebutuhan. Tetapi disepakati bahwa kebutuhan dibagi tiga kelompok. Dan, kurasa anggota masing-masing kelompoknya tidak dapat dipastikan.

Bicara tentang kebutuhan, aku teringat masa kecil. Kalian pasti mengalaminya.

Ada masanya aku merasa heran dengan kerangka pikiran yang terlah kusetujui. Siapa yang membantah bahwa setiap yang bernyawa akan terkena mati. Siapa pun akan mangguk-mangguk menyetujui. Bahkan, hal ini menjadi topik obrolan yang meriangkan.

Kau bayangkan saja, kalau kau mati dalam perjalanan pulang dari merampok atau mencopet atau melacur. Tak lama setelah tidur, kau dibangunkan malaikat untuk diintrogasi. Atau sebaliknya, kalian bayangkan kalau kalian mati dalam perjalanan pulang dari Mekah atau pengajian, atau membagi sedekah jariah. Tentu kau pun dibangunkan malaikat untuk diintrogasi. Bedanya, ada yang dipersilahkan dengan tangan kanan untuk menikmati kehidupan kedua, dan adan yang dipersilakan dengan tangan kiri. Begitu kira-kira, kata Guru Ngaji semasa kecil yang kubahasakan semauku.

Sialnya, kalau balita yang belum berdosa mati, ia akan menjadi pelayan penghuni surga. Pertanyaanku, bagaimana orang gila? Pa Guru tertawa. Kemudian mendongengkannya.

...,

Dulu dan sekarang kubayangkan lagi. Cobalah kalian bayangkan saja. Entah bagaimana kejadiannya, kematian datang, sementara kegilaan masih ada. Gila, kemudian mati.

Setelah lelap sejenak, malaikan membangunkan. Seperti biasanya, mereka datang sebagai tim penguji yang andal, yang suka mengajukan pertanyaan. Tapi kali ini mereka kebelinger. Maklum malaikat, tugasnya bertanya, ya bertanya tanpa pilih-pilih. Akhirnya, karena malaikat merasa runyem, si Gila dipersilakan dengan kepala yang didongakkan. Bukan dengan tangan kanan atau kiri. Si Gila seperti mengerti, ia menempatkan diri antara surga dan neraka. Malaikat pun nyengir dan menggelengkan kepala serta bergumam kepada sesamanya, ''pintar!''.

Tak bosan malaikan memerhatikan kelakuan si Gila. Kepada penghuni surga si Gila berteriak, ''hoi, benarkah kemauan selalu terkabul dan kebutuhan kalian tercukupi?'' Yang di surga menyeru ''ya, benar.'' Si Gila bertanya lagi, ''bagaimana aku yakin benarnya?'' Penghuni surga berusaha menyakinkan si Gila, ''Katakan mau mu, biar kami yang memintakan.'' ''Coba mintakan aku sebatang rokok dan secangkir kopi bergula, dan goreng singkong.''

Dalam sekejap saja, yang diminta si Gila tersedia dan diserahkannya. ''mana apinya?'' pinta si Gila. ''disurga tidak ada api. Sebab api hanya untuk penghuni neraka.'' si Gila tertawa dan meledek ''katanya apapun bisa? Lha, cuma api!'' Kaum surgawi tersinggung. Namun mereka menyadari bahwa begitulah aturannya, api hanya di neraka.

Si Gila mengikuti saran dari surga, ia pun mendatangi penghuni neraka. Karena gersang dan berisik, ia pun berteriak minta api. ''hoi...hoi..woooi..minta api.'' Terdengar jawaban kasar dalam pertanyaan, ''untuk apa, ha?'' si Gila rada takut, murengked. Tapi karena butuh, ia pun menerengkan. ''butuh apin untuk menyulut roko dan memasak air untuk kopi dan membakar singkong.'' Rupanya, penghuni surga memberinya bukan yang siap santap. Karena memang di surga tidak boleh ada bara.

Selesailah ia memasak. Di tempat yang nyaman, antara surga dan neraka, si Gila merasa riang gembira. Menikmati pemandangan surga yang indah dan terasa sejuk serta menikmati unggun dari neraka yang terasa hangat olehnya. Kenikmatannya ditambah oleh hidangan kesukaan, rokok, secangkir kopi, dan goreng singkong.

Dari neraka terdengar teriak gagah, ''hoi...berikan sebahagia untuk kami!'' Sebelun si Gila bereaksi, dari surga terdengar teriak yang sama namun sedikit memelas. Tak lama kemudian, si Gila terbahak. Tawanya menggelegak. Sambil tersenyum merayu, si Gila menatap kaum surga dan kaum neraka yang menampakkan keirian. Tawanya kembali menggelegak setelah mendengar curahan hasrat mereka, ''Gila...bagaimana agar aku sepertimu?''

...,

''Cengengesan sendiri macam orang gila. Ada apa, he?''
''ehm...mengingat masa mengaji. Kamu masih ingat kata Pak Guru, dulu, 'orang gila tempatnya antara surga dan neraka'?

Terdengar tawa dua sahabat yang bercengkerama di jelang magrib.

Parigimulya 21 Oktober 2009